Senin, 21 September 2020

                                                  Menjadi Guru Adalah Sebuah Pilihan


Hidup adalah sebuah pilihan. Cocok atau tidaknya sesuatu dengan Anda pun merupakan pilihan. Jika seseorang telah menentukan pilihan, pastilah ada konsekuensi tertentu yang akan ditanggungnya. Demikian juga dengan niatan Anda untuk menjadi guru. Niat yang utama dan pertama adalah niat untuk beribadah. Niat menjadi guru sebaiknya jangan semata-mata untuk mencari keuntungan duniawi atau keuntungan materi, sebab akan sia-sia saja seorang guru yang memiliki niat untuk mencari kekayaan dunia.

Memang benar jika banyak orang mengatakan bahwa profesi guru sesungguhnya bukanlah murni sebuah pekerjaan untuk mencari uang, artinya bukan semata-mata untuk menjadi sumber penghasilan belaka. Profesi guru lebih tepat disebut sebagai profesi panggilan hati atau sebuah pengabdian. Ya, pengabdian kepada bangsa dan negara tanpa mengharapkan imbalan yang berlebih. Jika memang niatnya ingin menumpuk kekayaan, maka bukan disinilah tempatnya. Silahkan mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.

Seseorang yang menjadikan status guru sebagai pilihan hidup, akan berbeda dengan mereka yang memaknai status guru sebagai takdir. Guru sebagai pilihan hidup akan tercermin dalam etos kerja ketika berada di dalam kelas untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM). Transformasi materi, bahan ajar, ide, gagasan, dan pengalaman kepada anak didik akan terus mengalir. Kreatifitas dan improvisasi guru yang dibutuhkan oleh anak, kaitan dengan proses pembelajaran, bermunculan dan mudah untuk diimplementasikan. Hal ini dilakukan dan tercipta, karena si guru tersebut benar-benar menikmati pekerjaan guru sebagai pilihan hidup. Selain itu, komunikasi pembelajaran yang dibangun antara guru dan peserta didik lebih kepada komunikasi persuasif, mengutamakan rasa yang berkorelasi dengan logika, sehingga tercipta suasana yang kondusif di dalam kelas. Peserta didik akan merasa nyaman dengan kehadiran sosok yang menjadikan guru sebagai jalan hidup bukan sebagai takdir.    

Berbeda halnya ketika profesi guru dipahami sebagai takdir karena alasan keterbatasan lapangan pekerjaan, yang pada akhirnya menjadi guru adalah alternatif terakhir daripada nganggur. Hal yang demikian akan sangat beresiko bagi keberlangsungan KBM dan pembentukan karakter peserta didik sebagai calon-calon pemimpin masa depan. Menjadi guru karena alasan tiada lagi pekerjaan, akan berdampak pada kualitas pengajaran di dalam kelas. Peserta didik sangat mungkin dibuat tidak nyaman oleh guru tersebut, karena yang bersangkutan tidak memahami metodologi pembelajaran, tidak menjiwai guru sebagai profesi mulia, dan memang dari awal cita-cita hidupnya tidak berencana menjadi seorang gauru. 

Hanya karena desakan orangtua yang kebetulan menjadi pendidik, maka sang anakpun dipaksa mengikuti jejak langkah keduanya. Atau, hanya karena memiliki koneksi orang dalam di birokrasi, dan kebetulan pada saat perekrutan calon karyawan pemda (misalkan), peluang menjadi seorang guru lebih banyak, maka profesi guru yang menjadi bidikan terakhir. Alhasil, karena proses menjadi gurunya sangat instan, maka orang tersebut tidak pernah memahami esensi menjadi guru yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Menulis Buku dari Laporan PTK Judul PTK : Penggunaan Media Audiovisual untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Materi Cahay...