Menjadi Guru Adalah Sebuah Pilihan
Hidup adalah sebuah pilihan. Cocok atau tidaknya sesuatu
dengan Anda pun merupakan pilihan. Jika seseorang telah menentukan pilihan, pastilah
ada konsekuensi tertentu yang akan ditanggungnya. Demikian juga dengan niatan Anda untuk menjadi guru. Niat yang utama dan pertama adalah
niat untuk beribadah. Niat menjadi
guru sebaiknya jangan semata-mata untuk mencari keuntungan duniawi atau
keuntungan materi, sebab akan sia-sia saja seorang guru yang memiliki niat
untuk mencari kekayaan dunia.
Memang benar jika banyak orang mengatakan bahwa profesi
guru sesungguhnya bukanlah murni sebuah pekerjaan untuk mencari uang, artinya
bukan semata-mata untuk menjadi sumber penghasilan belaka. Profesi guru lebih
tepat disebut sebagai profesi panggilan hati atau sebuah pengabdian. Ya,
pengabdian kepada bangsa dan negara tanpa mengharapkan imbalan yang berlebih.
Jika memang niatnya ingin menumpuk kekayaan, maka bukan disinilah tempatnya.
Silahkan mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.
Seseorang yang
menjadikan status guru sebagai pilihan hidup, akan berbeda dengan mereka yang
memaknai status guru sebagai takdir. Guru sebagai pilihan hidup akan tercermin
dalam etos kerja ketika berada di dalam kelas untuk melaksanakan kegiatan
belajar mengajar (KBM). Transformasi materi, bahan ajar, ide, gagasan, dan
pengalaman kepada anak didik akan terus mengalir. Kreatifitas dan improvisasi
guru yang dibutuhkan oleh anak, kaitan dengan proses pembelajaran, bermunculan
dan mudah untuk diimplementasikan. Hal ini dilakukan dan tercipta, karena si
guru tersebut benar-benar menikmati pekerjaan guru sebagai pilihan hidup.
Selain itu, komunikasi pembelajaran yang dibangun antara guru dan peserta didik
lebih kepada komunikasi persuasif, mengutamakan rasa yang berkorelasi dengan
logika, sehingga tercipta suasana yang kondusif di dalam kelas. Peserta didik
akan merasa nyaman dengan kehadiran sosok yang menjadikan guru sebagai jalan
hidup bukan sebagai takdir.
Berbeda halnya ketika profesi guru dipahami sebagai takdir karena alasan keterbatasan lapangan pekerjaan, yang pada akhirnya menjadi guru adalah alternatif terakhir daripada nganggur. Hal yang demikian akan sangat beresiko bagi keberlangsungan KBM dan pembentukan karakter peserta didik sebagai calon-calon pemimpin masa depan. Menjadi guru karena alasan tiada lagi pekerjaan, akan berdampak pada kualitas pengajaran di dalam kelas. Peserta didik sangat mungkin dibuat tidak nyaman oleh guru tersebut, karena yang bersangkutan tidak memahami metodologi pembelajaran, tidak menjiwai guru sebagai profesi mulia, dan memang dari awal cita-cita hidupnya tidak berencana menjadi seorang gauru.
Hanya karena desakan
orangtua yang kebetulan menjadi pendidik, maka sang anakpun dipaksa mengikuti
jejak langkah keduanya. Atau, hanya karena memiliki koneksi orang dalam di
birokrasi, dan kebetulan pada saat perekrutan calon karyawan pemda (misalkan),
peluang menjadi seorang guru lebih banyak, maka profesi guru yang menjadi
bidikan terakhir. Alhasil, karena proses menjadi gurunya sangat instan, maka
orang tersebut tidak pernah memahami esensi menjadi guru yang sesungguhnya.